Jendela Informasi Jawa Barat
Beranda
KIRI-1 - Kantor Berita Jabar
KANAN-1 - Kantor Berita Jabar

Kementerian PU Tangani 294 Titik Kekeringan, Perkuat Ketahanan Air Nasional

Jakarta, Kantor Berita Jabar – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menangani 294 titik kekeringan di berbagai wilayah Indonesia hingga akhir Juli 2026 sebagai upaya menjaga ketersediaan air irigasi, memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, dan mempertahankan produktivitas pertanian nasional di tengah musim kemarau akibat El Nino.

Dari total 294 titik kekeringan yang ditangani, sebanyak 180 titik berada di daerah irigasi atau areal persawahan, sedangkan 114 titik lainnya berada di kawasan permukiman. Hingga saat ini, sebanyak 202 titik atau 68,7 persen telah selesai ditangani, sementara 92 titik lainnya masih dalam proses penanganan.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan pemerintah saat ini memfokuskan penanganan kekeringan pada pencarian sumber-sumber air baru, khususnya air bawah tanah, untuk mendukung kebutuhan pertanian di sejumlah wilayah sentra produksi pangan yang mulai terdampak musim kemarau.

“Yang kita kejar sekarang adalah sebanyak-banyaknya mendapatkan sumber air bawah tanah dan mengalirkannya ke sawah-sawah terdekat. Kita harus menjaga agar produktivitas petani tidak turun meskipun dalam kondisi kekeringan,” kata Menteri Dody.

Untuk mendukung upaya tersebut, Kementerian PU bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam memanfaatkan teknologi isotop guna menelusuri potensi sumber air bawah tanah. Pemanfaatan teknologi tersebut juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar inovasi terus diperkuat dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Penanganan di sektor irigasi menjadi prioritas utama karena berkaitan langsung dengan produktivitas pertanian. Dari 180 titik kekeringan di daerah irigasi, sebanyak 160 titik telah selesai ditangani, sedangkan 20 titik lainnya masih dalam proses penyelesaian.

Berbagai langkah darurat dilakukan untuk menjaga pasokan air ke lahan pertanian, mulai dari pemompaan air dari sungai menuju areal persawahan, normalisasi saluran irigasi, peninggian tanggul saluran menggunakan sandbag, pemasangan pipa untuk meningkatkan debit air, hingga pembangunan saluran irigasi tersier agar distribusi air menjangkau lahan yang terdampak kekeringan.

Selain memperkuat jaringan irigasi, Kementerian PU juga bekerja sama dengan BMKG melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah kawasan bendungan sebagai bagian dari strategi pengelolaan sumber daya air selama musim kemarau. Salah satu pelaksanaan OMC dilakukan di Bendungan Jatiluhur pada 30 Juli 2026 bersama Perum Jasa Tirta II, BMKG, dan TNI AU untuk menjaga ketersediaan tampungan air bagi kebutuhan irigasi.

“Operasi Modifikasi Cuaca adalah salah satu cara kita memastikan bahwa air tetap mengalir ke sawah-sawah petani yang ada di sekitar bendungan,” tegas Menteri Dody.

Di sektor permukiman, Kementerian PU juga terus menangani dampak kekeringan melalui penyediaan air bersih. Dari 114 lokasi kekeringan di kawasan permukiman, sebanyak 42 lokasi telah selesai ditangani, sedangkan 72 lokasi lainnya masih dalam proses penanganan. Langkah darurat dilakukan melalui distribusi air bersih menggunakan truk tangki serta dukungan penyediaan air bersih agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau.

Kementerian PU menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat mitigasi dampak musim kemarau melalui penyediaan sumber air, optimalisasi jaringan irigasi, dan pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan air sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional, sejalan dengan sasaran PU608. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Latar kantor berita jabar (bg-kbj)