Jendela Informasi Jawa Barat
Beranda
KIRI-1 - Kantor Berita Jabar
KANAN-1 - Kantor Berita Jabar
Daerah  

Aksi Nyata dan Berdampak, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Psikolog Fakultas Psikologi UNISBA Latih Pekerja Sosial Griya Bina Karya Cisarua, Dorong Kemandirian WBS

Bandung Barat, Kantor Berita Jabar – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Psikolog Program Profesi, Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (UNISBA), Aulia Nazwa Sihab, S.Psi., menggelar pelatihan bimbingan kewirausahaan bagi pekerja sosial di Satuan Pelayanan Sosial (Satpelsos) Griya Bina Karya Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (6/10/2026) tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pendampingan terhadap Warga Binaan Sosial (WBS), khususnya dalam mempersiapkan rencana kerja maupun usaha sebelum kembali ke tengah masyarakat.

Mengusung tema “Susun Rencana, Mulai Usaha: Panduan bagi Pekerja Sosial dalam Mendampingi WBS Menjelang Terminasi”, pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas pekerja sosial dalam membantu WBS menyusun langkah kewirausahaan secara lebih terarah, realistis, dan sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari praktik profesi psikolog pada latar Layanan Psikologi Profesi Psikolog Umum dalam konteks komunitas. Pelaksanaannya berada di bawah bimbingan Dr. Suci Nugraha, M.Psi., Psikolog, selaku supervisor internal, serta Dr. Amir Nuyman, M.Psi., Psikolog, sebagai supervisor eksternal.

Sebelum pelatihan dilaksanakan, Aulia melakukan asesmen komunitas dengan melibatkan WBS, alumni, pekerja sosial, instruktur keterampilan, keluarga, serta berbagai sumber data pelayanan.

Asesmen tersebut bertujuan memahami sejauh mana proses rehabilitasi sosial membantu WBS mempersiapkan pemanfaatan keterampilan vokasional dan merencanakan pekerjaan atau usaha setelah menyelesaikan masa pembinaan atau memasuki tahap terminasi.

Hasil asesmen menunjukkan bahwa WBS telah memperoleh berbagai keterampilan vokasional. Sebagian di antaranya bahkan sudah memiliki gambaran mengenai pekerjaan maupun usaha yang ingin dijalankan setelah kembali ke masyarakat.

Namun, keterampilan dan keinginan untuk berwirausaha masih perlu didukung dengan perencanaan yang lebih konkret. Beberapa aspek yang perlu dipersiapkan meliputi penentuan langkah awal, identifikasi calon pembeli, kebutuhan usaha, pemanfaatan sumber daya yang tersedia, hingga strategi menghadapi hambatan.

Temuan tersebut menjadi dasar penyusunan intervensi yang berfokus pada penguatan peran pekerja sosial dalam mendampingi WBS merancang masa depan secara bertahap.

Upaya ini sejalan dengan semangat rehabilitasi sosial sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial dan diperkuat melalui Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 10 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial.

Kedua regulasi tersebut menjadi landasan penting dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial, termasuk pengembangan keterampilan dan pembinaan kewirausahaan sebagai bagian dari upaya mendukung kemandirian penerima layanan.

Pelatihan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 11.30 WIB itu diikuti enam pekerja sosial Satpelsos PPSGBK Cisarua.

Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh Modul Bimbingan Kewirausahaan dan lembar kerja atau worksheet bertajuk “Rencana Usahaku”. Kedua perangkat ini dirancang sebagai panduan praktis untuk membantu pekerja sosial membahas rencana usaha bersama WBS melalui sesi bimbingan individual.

Materi pelatihan mencakup prinsip pendampingan yang berorientasi pada kemampuan dan sumber daya WBS, eksplorasi pilihan usaha dan calon pembeli, penentuan nilai produk atau jasa, kebutuhan awal usaha, pengelolaan keuangan sederhana, operasional usaha, pemasaran, serta antisipasi terhadap berbagai hambatan.

Metode pelatihan dikemas secara interaktif melalui penyampaian materi, diskusi kasus reflektif, simulasi atau role play, serta refleksi bersama.

Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada pekerja sosial untuk memahami materi sekaligus mempraktikkan cara mendampingi WBS ketika membahas pilihan usaha dan langkah-langkah yang perlu dipersiapkan.

Melalui modul dan lembar kerja tersebut, pekerja sosial diharapkan dapat membantu WBS mengubah gagasan usaha menjadi rencana yang lebih terukur, mulai dari mengenali potensi diri hingga mempertimbangkan kebutuhan dan peluang yang tersedia.

Salah satu poin penting dalam pelatihan ini adalah penguatan pendekatan pendampingan yang menempatkan WBS sebagai pihak utama dalam pengambilan keputusan.

Pekerja sosial diarahkan untuk membantu WBS mengenali kemampuan, pengalaman, dan sumber daya yang dimiliki, kemudian mempertimbangkan berbagai alternatif usaha sesuai kondisi masing-masing.

Dengan pendekatan tersebut, pekerja sosial tidak mengambil alih keputusan atau menentukan jenis usaha bagi WBS. Sebaliknya, mereka berperan sebagai fasilitator yang membantu WBS memahami pilihan, memperhitungkan kebutuhan, dan menyusun langkah yang dapat diterapkan secara bertahap.

Bimbingan individual yang selama ini telah tersedia di Satpelsos PPSGBK Cisarua juga diharapkan dapat dioptimalkan sebagai ruang untuk membahas kesiapan WBS menjelang terminasi.

Pembahasan dapat disesuaikan dengan kondisi keluarga, kebutuhan, hambatan, kemampuan, serta sumber daya yang tersedia bagi setiap WBS. Dengan demikian, rencana yang disusun tidak hanya berorientasi pada gagasan usaha, tetapi juga mempertimbangkan kemungkinan penerapannya setelah kembali ke masyarakat.

Pekerja Sosial Ahli Madya sekaligus Ketua Tim Satuan Pelayanan Sosial Griya Bina Karya Cisarua, R. Sugeng Rahmanto, A.KS., menyampaikan respons positif terhadap pelaksanaan pelatihan tersebut.

Menurut Sugeng, materi yang disampaikan mudah dipahami dan contoh kasus yang digunakan sesuai dengan kondisi WBS yang selama ini didampingi pekerja sosial.

“Materinya mudah dipahami dan contoh kasusnya dekat dengan kondisi WBS yang kami dampingi. Modulnya juga bisa menjadi pegangan ketika membahas rencana usaha bersama WBS,” ujar Sugeng.

Respons positif juga disampaikan pekerja sosial lainnya, Kania. Ia menilai pelatihan tersebut memberikan tambahan pemahaman mengenai aspek-aspek yang perlu dibahas bersama WBS sebelum memasuki tahap terminasi.

“Kami jadi punya gambaran yang lebih terarah tentang hal apa saja yang perlu dibahas bersama WBS, tetapi keputusan tetap dikembalikan kepada WBS sesuai kemampuan dan kondisinya,” tuturnya.

Masukan peserta tersebut menunjukkan bahwa panduan yang praktis dan sesuai dengan kebutuhan lapangan dapat membantu pekerja sosial menjalankan pendampingan kewirausahaan secara lebih terstruktur tanpa mengabaikan kondisi individual WBS.

Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa peserta memberikan penilaian positif terhadap materi, metode, media, dan manfaat pelatihan.

Selain itu, rata-rata skor pemahaman peserta meningkat dari 61,67 sebelum pelatihan menjadi 80,00 setelah pelatihan, atau naik sebesar 18,33 poin.

Peningkatan tersebut menjadi indikasi awal adanya perkembangan pemahaman peserta mengenai bimbingan kewirausahaan bagi WBS menjelang terminasi.

Selama kegiatan berlangsung, peserta juga terlibat aktif dalam diskusi, pembahasan kasus, praktik simulasi, dan refleksi bersama.

Meski demikian, peningkatan pemahaman peserta perlu diikuti penerapan modul dalam bimbingan individual serta pendampingan berkelanjutan agar manfaat pelatihan dapat mendukung proses persiapan WBS secara nyata.

Melalui praktik profesi ini, Aulia Nazwa Sihab berharap penguatan kapasitas pekerja sosial dapat membantu mengoptimalkan proses rehabilitasi sosial di Satpelsos PPSGBK Cisarua.

Modul Bimbingan Kewirausahaan dan worksheet “Rencana Usahaku” diharapkan dapat dimanfaatkan secara fleksibel, menyesuaikan kemampuan, pengalaman, kebutuhan, dan sumber daya masing-masing WBS.

Upaya tersebut menjadi bagian dari pendekatan rehabilitasi sosial yang tidak hanya berfokus pada pemberian keterampilan selama masa pembinaan, tetapi juga mempersiapkan penerapan keterampilan tersebut dalam kehidupan setelah kembali ke masyarakat.

Dukungan pekerja sosial, lembaga, keluarga, dan pihak terkait tetap diperlukan agar WBS memiliki kesempatan lebih baik dalam merancang langkah menuju kemandirian ekonomi.

Dengan penguatan pendampingan kewirausahaan yang terarah dan berkelanjutan, Satpelsos Griya Bina Karya Cisarua diharapkan dapat terus mengembangkan pelayanan rehabilitasi sosial yang lebih responsif terhadap kebutuhan WBS, sekaligus membantu mereka mempersiapkan masa depan yang realistis, produktif, dan mandiri. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Latar kantor berita jabar (bg-kbj)