Jendela Informasi Jawa Barat
Beranda
KIRI-1 - Kantor Berita Jabar
KANAN-1 - Kantor Berita Jabar

BMKG Prediksi El Nino Menguat hingga Oktober 2026, Operasi Modifikasi Cuaca Diperluas untuk Cegah Karhutla

Jakarta, Kantor Berita Jabar – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Nino akan terus menguat mulai Juli hingga September 2026 dan mencapai puncaknya pada Oktober 2026 sebelum berangsur melemah saat musim hujan tiba pada November mendatang.

Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Dr. Tri Handoko Seto, dalam Rapat Koordinasi Khusus Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Menurutnya, meskipun kondisi El Nino saat ini masih berada pada kategori moderat dan sejumlah wilayah masih mengalami hujan, peningkatan suhu muka laut diperkirakan akan memperkuat dampak fenomena tersebut dalam beberapa bulan ke depan.

“Bulan-bulan ke depan perlu menjadi perhatian serius karena intensitas El Nino diperkirakan terus meningkat. Oleh karena itu, kesiapsiagaan seluruh pemangku kepentingan perlu diperkuat sejak dini,” ujarnya.

BMKG bersama pemerintah terus melakukan langkah mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna menjaga kelembapan lahan dan mencegah terjadinya kebakaran hutan serta lahan.

Hingga pertengahan 2026, operasi tersebut telah berlangsung selama 141 hari dengan total 225 sortie penerbangan yang difokuskan pada berbagai wilayah prioritas rawan karhutla.

Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menilai keberhasilan menekan luas kebakaran hutan dan lahan dalam beberapa tahun terakhir merupakan hasil sinergi berbagai pihak.

“Penurunan luas karhutla merupakan keberhasilan dari meningkatnya kerja bersama seluruh pemangku kepentingan. Meruntuhkan ego sektoral antar kementerian dan lembaga menjadi salah satu kunci keberhasilan tersebut,” katanya.

Meski demikian, Raja Juli mengingatkan bahwa musim kemarau 2026 diperkirakan datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan lebih kering dibanding tahun sebelumnya.

Ia menegaskan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh bersifat sementara atau hanya muncul saat bencana terjadi.

“Kesiapsiagaan harus menjadi budaya kerja permanen, bukan respons sesaat ketika terjadi bencana,” tegasnya.

Dari daerah, Wakil Gubernur Kalimantan Tengah Edy Pratowo menyoroti pentingnya penguatan infrastruktur pendukung di kawasan rawan karhutla yang jauh dari sumber air.

Menurutnya, keberadaan embung, kanal, dan cadangan air menjadi faktor penting untuk menjaga kelembapan lahan gambut selama musim kemarau.

“Karhutla tidak hanya terjadi di sekitar sungai, tetapi juga di tengah kawasan hutan yang jauh dari sumber air. Karena itu embung dan kanal menjadi sangat penting dalam mendukung pencegahan maupun penanganan di lapangan,” ujarnya.

Pemerintah berharap sinergi antara BMKG, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, TNI, Polri, dunia usaha, dan masyarakat dapat memperkuat upaya pencegahan karhutla seiring meningkatnya ancaman El Nino pada paruh kedua tahun 2026. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Latar kantor berita jabar (bg-kbj)