Jendela Informasi Jawa Barat
Beranda
KIRI-1 - Kantor Berita Jabar
KANAN-1 - Kantor Berita Jabar
Opini  

Brigjen Pol. Ibrahim Tompo, Sosok yang Membuat Wartawan Jawa Barat Merasa Dihargai

Oleh : Roni Maulana Arsy Jurnalis Media Djabar Pos

Kota Bandung, Kantor Berita Jabar – Jumat siang, 29 Mei 2026.Di tengah padatnya pusat Kota Bandung, sejumlah wartawan berkumpul seperti biasa. Ada yang baru turun liputan, ada yang masih sibuk mengedit video di ponsel, ada pula yang sekadar duduk santai sambil menyeruput kopi setelah seharian mengejar berita. Obrolannya ringan. Tentang isu politik yang sedang ramai. Tentang ritme media digital yang makin melelahkan. Tentang dunia jurnalistik yang berubah cepat dan kadang terasa semakin dingin. Lalu satu nama disebut. Brigjen Pol. Ibrahim Tompo. Suasana mendadak berubah. Beberapa wartawan senior mulai tersenyum kecil. Yang lain ikut menimpali cerita. Nama itu seperti membuka kembali ingatan tentang satu sosok yang hingga hari ini masih sulit dilupakan para jurnalis Jawa Barat. Ada yang mengenang bagaimana beliau tetap berdiri cukup lama setelah konferensi pers selesai hanya untuk melayani pertanyaan tambahan wartawan. Ada yang bercerita tentang kebiasaannya menyapa awak media lebih dulu sebelum wawancara dimulai. Bahkan wartawan media kecil dan kontributor daerah pun merasa diperlakukan setara. Tidak ada jarak berlebihan. Tidak ada kesan eksklusif. Hal-hal sederhana seperti itu ternyata bertahan lama dalam ingatan. Di dunia jurnalistik yang serba cepat, penghargaan kecil sering kali jauh lebih membekas dibanding berita besar. Sudah dua tahun berlalu sejak Brigjen Pol. Ibrahim Tompo meninggalkan jabatan Kabid Humas Polda Jawa Barat. Namun namanya masih sering muncul dalam obrolan wartawan. Bukan karena sensasi. Bukan pula karena pencitraan. Tetapi karena caranya memperlakukan manusia. Tidak semua pejabat meninggalkan jejak di hati wartawan. Sebagian hanya lewat dalam siklus jabatan dan seremoni. Datang, diliput, lalu perlahan dilupakan. Brigjen Pol. Ibrahim Tompo. Banyak wartawan merasa beliau memahami bahwa hubungan media dan institusi tidak cukup dibangun lewat konferensi pers formal atau rilis panjang yang kaku. Ada komunikasi yang harus dibangun dengan rasa hormat, keterbukaan, dan kedekatan yang tulus. Di era ketika banyak pejabat sibuk menjaga citra dan membangun jarak, Ibrahim Tompo justru memilih mendekat. Ia mudah ditemui. Responsif. Tidak mempersulit akses informasi. Telepon wartawan sering diangkat langsung. Pesan dibalas tanpa harus menunggu berlapis birokrasi. Bahkan dalam situasi sensitif sekalipun, beliau tetap berusaha memberi penjelasan agar informasi tidak berkembang liar. Bagi wartawan lapangan, sikap seperti itu sangat berarti. Karena yang paling melelahkan dalam profesi ini kadang bukan mencari berita, melainkan menghadapi tembok komunikasi yang tertutup. Dan Ibrahim Tompo mampu mematahkan kesan itu. Salah satu wartawan senior sempat berkata dalam obrolan siang itu, “Setelah beliau pindah, rasanya belum ada lagi sosok yang sedekat itu dengan wartawan.” Kalimat itu sederhana. Tetapi cukup menggambarkan bagaimana beliau dikenang. Beberapa jurnalis bahkan secara spontan menyampaikan harapan agar suatu hari Brigjen Pol. Ibrahim Tompo bisa kembali bertugas di Jawa Barat, bahkan bila memungkinkan menjadi Kapolda Jawa Barat. Harapan itu lahir bukan semata karena kedekatan personal, melainkan karena mereka melihat sosok pemimpin yang memahami pentingnya komunikasi publik yang sehat. Karier Brigjen Pol. Ibrahim Tompo memang menunjukkan pola kepemimpinan yang konsisten. Saat menjabat Wakapolres Natuna di wilayah perbatasan Kepulauan Riau, beliau dikenal dekat dengan masyarakat. Pendekatan komunikatif menjadi salah satu kekuatan yang membuatnya mudah diterima. Kemampuan itu semakin terlihat saat dipercaya memimpin Humas Polda Sulawesi Utara pada 2016–2019 dan Polda Sulawesi Selatan pada 2019–2020. Namun bagi banyak insan pers Jawa Barat, masa kepemimpinannya sebagai Kabid Humas Polda Jabar memiliki tempat tersendiri. Saat media digital tumbuh cepat dan arus informasi bergerak tanpa jeda, Ibrahim Tompo termasuk sedikit pejabat humas yang mampu memahami perubahan zaman. Ia tidak membeda-bedakan media besar dan kecil. Wartawan televisi nasional maupun jurnalis media online lokal mendapat ruang komunikasi yang sama. Barangkali karena beliau memahami satu hal penting: kepercayaan publik tidak lahir dari pencitraan semata, tetapi dari keterbukaan dan cara memperlakukan orang lain. Di tengah derasnya media sosial, banjir opini, dan cepatnya penyebaran informasi liar, sosok humas yang humanis sebenarnya menjadi kebutuhan penting institusi negara. Sayangnya, karakter seperti itu tidak mudah ditemukan. Hari ini banyak komunikasi publik terasa terlalu formal, terlalu berhitung, bahkan terkadang kehilangan sisi manusianya. Padahal masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi yang cepat, tetapi juga ketulusan dalam cara menyampaikannya. Dan Ibrahim Tompo menunjukkan bahwa pendekatan humanis tidak membuat institusi menjadi lemah. Justru sebaliknya, kedekatan dengan media mampu memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi. Bagi banyak wartawan Jawa Barat, Ibrahim Tompo bukan sekadar mantan Kabid Humas. Ia adalah simbol bahwa hubungan polisi dan media sebenarnya bisa berjalan hangat tanpa kehilangan profesionalisme. Kini, saat Brigjen Pol. Ibrahim Tompo mengemban amanah sebagai Pati Divisi Humas Polri, harapan publik tentu semakin besar. Pengalaman panjang, kemampuan membangun jejaring media, serta gaya kepemimpinan yang inklusif menjadi modal penting untuk memperkuat transparansi Polri di tingkat nasional. Namun ada satu hal yang tampaknya tetap tinggal di Jawa Barat. Namanya masih hidup di meja-meja kopi wartawan. Masih disebut dalam obrolan santai. Masih dikenang dalam cerita-cerita kecil para jurnalis lapangan. Mungkin karena wartawan, di balik kerasnya profesi ini, tetap mengingat siapa yang pernah menghargai mereka sebagai manusia. Dan mungkin juga karena dua tahun setelah beliau pergi, kedekatan itu belum benar-benar tergantikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Latar kantor berita jabar (bg-kbj)