Jendela Informasi Jawa Barat
Beranda
KIRI-1 - Kantor Berita Jabar
KANAN-1 - Kantor Berita Jabar

Ancaman Perang Timur Tengah Membesar, Purnawirawan Jenderal Ingatkan: Konflik Tidak Langsung Lebih Berbahaya

Ketegangan Iran–Israel–AS meningkat, Indonesia diminta waspada dan perkuat ketahanan nasional

Depok, Kantot Berita Jabar – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase berbahaya. Hubungan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat terus memburuk, memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik berskala luas yang dapat mengguncang stabilitas global.

 

Banner Pegadaian

Namun, alih-alih perang terbuka, skenario yang dinilai lebih realistis justru konflik tidak langsung yang dampaknya bisa jauh lebih kompleks.

 

“Perang terbuka risikonya sangat besar, terutama bagi ekonomi dunia. Karena itu, yang lebih mungkin terjadi adalah konflik terbatas atau perang melalui pihak ketiga,” ujar Mayjen TNI (Purn) H. Tatang Zaenudin dalam wawancara khusus bersama Redaksi NasionalNews, di kediamannya di Depok, 2 Mei 2026.

 

Konflik Global, Dampak Nyata

Ketegangan antara Iran dan Israel dalam beberapa waktu terakhir terus meningkat, termasuk melalui serangan tidak langsung, operasi intelijen, hingga perang proksi di kawasan.

 

Jika eskalasi terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi:

1. Mengganggu rantai pasok energi global

2. Mendorong kenaikan harga minyak dunia

3. Memicu instabilitas ekonomi internasional

 

Peran PBB Dinilai Terbatas

Dalam situasi krisis global, peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali menjadi sorotan. Namun, efektivitasnya dinilai tidak selalu optimal.

 

“PBB tetap penting sebagai forum diplomasi. Tapi realitanya, sering kali terhambat oleh kepentingan politik negara-negara besar di Dewan Keamanan,” tegas Tatang.

 

Kondisi ini membuat penyelesaian konflik global kerap berjalan lambat dan penuh kompromi.

 

Indonesia Harus Tegas dan Tidak Terseret

Di tengah dinamika global yang tidak menentu, Indonesia diminta tetap konsisten pada prinsip politik luar negeri.

 

“Indonesia harus tetap pada prinsip bebas aktif. Jangan sampai terjebak dalam blok kekuatan mana pun,” ujarnya.

 

Tak hanya itu, ia menekankan pentingnya memperkuat ketahanan nasional di berbagai sektor strategis, seperti:

 

Pertahana :

Energi

Ekonomi

Skenario Terburuk: Konflik Berkepanjangan

 

Jika konflik berlangsung lama, pemerintah dinilai harus segera mengambil langkah antisipatif.

 

“Fokus utama harus pada stabilitas dalam negeri. Lakukan efisiensi anggaran, prioritaskan sektor strategis, dan pastikan komunikasi publik berjalan baik,” kata Tatang.

 

Menurutnya, kesiapan nasional menjadi faktor penentu dalam menghadapi gejolak global.

 

Di tengah derasnya arus informasi dan meningkatnya tensi global, pendekatan berbasis fakta dan strategi menjadi kunci. Indonesia tidak hanya dituntut untuk bersikap netral, tetapi juga cerdas membaca arah konflik yang semakin kompleks dan tidak kasatmata. (Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Latar kantor berita jabar (bg-kbj)