Jendela Informasi Jawa Barat
Beranda
KIRI-1 - Kantor Berita Jabar
KANAN-1 - Kantor Berita Jabar
Banner Situs Banner Situs

Ramai di Kamera, Sepi di Lidah : Kritik untuk Restoran Sunda yang Terlalu Viral

Viral di media sosial, namun kehilangan karakter rasa yang seharusnya menjadi ruh kuliner Sunda.

Oleh : Fazri Maula, Pengamat Kuliner Kota Bandung

Fenomena restoran Sunda viral belakangan ini layak dicermati lebih dalam. Antrean panjang, bangunan kayu estetik, saung yang fotogenik, hingga kolam ikan menjadi magnet kamera. Namun setelah euforia unggahan media sosial mereda, muncul keluhan yang berulang. Ramai di kamera, tetapi hambar di lidah.

Banner Situs

Tren viral telah menggeser orientasi banyak restoran Sunda. Dapur tak lagi menjadi pusat, melainkan latar belakang. Rasa dikondisikan agar “aman” dan netral demi menjangkau selera seluas mungkin. Akibatnya, kekuatan bumbu khas Sunda yang seharusnya berani, segar, dan berkarakter justru dipangkas. Makanan terlihat menarik, tetapi kehilangan identitas.

Banyak restoran Sunda viral menjadikan pengalaman visual sebagai komoditas utama. Harga melonjak untuk membayar estetika, sementara porsi menyusut dan kelengkapan menu dikurangi. Sayur asem dijual terpisah, sambal dibatasi, lalapan sekadar hiasan. Padahal, dalam filosofi kuliner Sunda, unsur-unsur itu bukan tambahan, melainkan inti dari keramahan dan keseimbangan rasa.

Dalam konteks inilah, Warung Sunda Bumi Sadayana muncul sebagai kontras yang mencolok. Ia tidak mengejar viral, nyaris absen dari panggung influencer, dan tampil dengan kesederhanaan yang nyaris menantang arus. Namun justru di tempat seperti inilah, rasa Sunda terasa lebih utuh. Sayur asem disajikan gratis, sambal dan lalapan tanpa hitungan, bukan sebagai gimmick, melainkan sebagai sikap.

Perbedaan semakin terasa pada pilihan menu. Restoran Sunda viral cenderung bermain aman dengan daftar yang seragam: ayam goreng, ikan goreng, tahu-tempe. Menu yang lebih berkarakter, seperti jantung pisang, kembang pepaya, atau kepala ikan berkuah perlahan ditinggalkan karena dianggap tidak fotogenik. Bumi Sadayana justru mempertahankan menu-menu tersebut, meski sadar tidak akan ramai di linimasa.

Tentu, tren viral tidak sepenuhnya keliru. Ia membuka minat generasi muda pada kuliner daerah dan menghidupkan kembali diskursus tentang makanan tradisional. Masalah muncul ketika viral dijadikan tujuan akhir, bukan pintu masuk. Ketika antrean dianggap bukti kualitas, bukan rasa yang membuat orang kembali tanpa kamera.

Bumi Sadayana juga bukan tanpa kekurangan. Konsistensi rasa antar cabang masih menjadi pekerjaan rumah, dan tampilannya jauh dari kesan modern. Namun di tengah banjir restoran Sunda viral yang cepat naik dan cepat pula ditinggalkan, kesederhanaan justru menjadi kekuatan. Ia dipilih saat orang benar-benar lapar, bukan saat ingin membuat konten.

Pada akhirnya, kuliner tidak hidup dari jumlah unggahan, tetapi dari ingatan rasa. Restoran yang hanya mengandalkan kamera akan kehabisan penonton ketika tren bergeser.

Sementara mereka yang setia pada dapur meski sunyi dari sorotan akan tetap dicari. Di situlah kritik ini berakar: jangan biarkan kuliner Sunda sibuk terlihat, tetapi lupa terasa. (Red)

Banner Pegadaian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Latar kantor berita jabar (bg-kbj)