Jakarta, Kantor berita Jabar – Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat tajam. Ketegangan antara Iran dan Israel kini memasuki fase yang lebih berbahaya, dengan potensi serangan besar terhadap fasilitas energi yang dapat memicu dampak global.
Berdasarkan laporan Reuters, Israel tengah mempersiapkan serangan ke fasilitas energi milik Iran dan disebut menunggu lampu hijau dari Amerika Serikat. Jika terealisasi, langkah ini berpotensi menjadi titik balik konflik menuju perang terbuka yang lebih luas.
Situasi semakin kompleks setelah jalur strategis Selat Hormuz dilaporkan mengalami gangguan. Selat tersebut merupakan jalur utama distribusi minyak dunia, dan terganggunya pasokan telah memicu lonjakan harga minyak global hingga mendekati 120 dolar AS per barel. Bahkan, sejumlah analis memperkirakan harga bisa menembus 150 dolar AS jika konflik terus berlanjut.
Sementara itu, laporan The Guardian menyoroti meningkatnya ancaman militer dari berbagai pihak. Amerika Serikat dikabarkan mengeluarkan peringatan keras kepada Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran di kawasan tersebut, dengan ancaman serangan terhadap infrastruktur strategis jika situasi tidak segera mereda.
Konflik juga dilaporkan mulai meluas ke kawasan lain. Iran disebut meluncurkan serangan drone dan rudal ke sejumlah negara Teluk, sementara Israel meningkatkan operasi militernya di wilayah Lebanon dan sekitarnya. Kondisi ini memicu kekhawatiran dunia internasional akan pecahnya perang regional yang lebih besar.
Di tengah situasi yang terus memanas, upaya diplomasi masih berlangsung namun belum menunjukkan hasil signifikan. Sejumlah negara besar terus menyerukan penahanan diri, mengingat dampak konflik tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga berimbas pada stabilitas ekonomi global.
Dengan ketegangan yang belum menunjukkan tanda mereda, dunia kini menghadapi ancaman krisis energi sekaligus potensi konflik berskala luas yang dapat mengubah peta geopolitik internasional dalam waktu dekat. (Red)










