Oleh : Roni Maulana Arsy (Praktisi Media)
Undangan reuni sekolah kini sering datang lewat layar ponsel. Grup lama kembali aktif, foto-foto masa sekolah dibagikan, candaan lama muncul kembali. Dari luar, semuanya tampak hangat dan menyenangkan.
Namun, bagi sebagian orang, undangan itu justru membuat hati terdiam lebih lama.
Bukan karena tak rindu, melainkan karena reuni sekolah tak lagi sesederhana dulu.
Di masa sekolah, kita datang sebagai teman. Duduk sejajar di bangku kelas, memakai seragam yang sama, tertawa tanpa beban. Tidak ada yang bertanya siapa orang tua kita, apa pekerjaan kita, atau seberapa jauh hidup telah membawa kita.
Kini, waktu memisahkan kita dengan cara yang berbeda. Ada yang hidupnya tampak lancar, ada yang masih berjuang dalam diam, ada pula yang menjalani hidup sederhana dengan segala tanggung jawabnya.
Dan di reuni, pertanyaan yang terdengar biasa bisa terasa berat: “Sekarang kerja apa?”
“Sudah jadi apa sekarang?”
Tidak semua orang punya jawaban yang ingin didengar. Tapi semua orang sedang berjuang dengan caranya masing-masing.
Tidak datang ke reuni sering disalahartikan sebagai sikap acuh. Padahal, bagi sebagian orang, itu adalah cara menjaga diri.
Ada yang sedang lelah secara ekonomi. Ada yang sedang bangkit dari kegagalan. Ada yang tidak ingin hidupnya dibandingkan dengan cerita orang lain. Mereka bukan tidak peduli, hanya tidak ingin pulang dengan hati yang lebih berat dari saat datang.
Tidak hadir bukan berarti tidak menghargai kebersamaan. Kadang, itu adalah bentuk kejujuran pada kondisi diri sendiri.
Reuni seharusnya menjadi tempat pulang. Namun ketika pertemuan berubah menjadi ajang perbandingan hidup, maknanya perlahan memudar.
Yang terdengar bukan lagi tanya kabar, melainkan cerita pencapaian. Yang terasa bukan lagi kehangatan, melainkan jarak yang tak diucapkan.
Padahal hidup bukan perlombaan. Tidak semua orang berjalan di lintasan yang sama, dan tidak semua keberhasilan bisa diukur dengan apa yang tampak di luar.
Reuni tidak harus mewah. Tidak perlu penuh cerita hebat. Yang terpenting adalah rasa saling menghargai.
Datang untuk menyapa, bukan menilai. Datang untuk mendengar, bukan membandingkan. Duduk sejajar, seperti dulu saat kita belum membawa beban apa pun selain tugas sekolah.
Ketika reuni sekolah tak lagi sederhana, mungkin yang perlu kita lakukan bukan menilai siapa yang datang atau tidak datang, melainkan menata kembali cara kita bertemu.
Mungkin, sebelum bertanya: “Sekarang sudah jadi apa?”
Kita bisa mulai dengan pertanyaan yang lebih manusiawi: “Apa kabarmu?”
Karena terkadang, itulah satu-satunya kalimat yang paling dibutuhkan seseorang.








