Aceh Tamiang, Kantor Berita Jabar – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo turun langsung meninjau pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Baja SPAM Karang Baru di Kabupaten Aceh Tamiang, Minggu, 24 Mei 2026.
Kunjungan itu dilakukan di tengah percepatan penanganan permanen pascabencana yang sedang berjalan di sejumlah wilayah Aceh. Pemerintah ingin memastikan proyek penyediaan air minum tersebut tidak hanya selesai tepat waktu, tetapi juga mampu bertahan dalam kondisi cuaca ekstrem.
Saat ini progres pembangunan IPA Baja berkapasitas 2×50 liter per detik telah mencapai 30 persen. Proyek ditargetkan rampung pada 10 Agustus 2026.
Di lokasi proyek, Menteri Dody memberi perhatian khusus pada keberlanjutan sumber air baku atau intake. Menurutnya, persoalan utama bukan hanya pembangunan instalasi, melainkan memastikan debit sungai tetap mampu menyuplai air ketika musim kering tiba.
“Pembangunan IPA baja 2×50 Lps saat ini sudah berproses. Namun kita harus memastikan sumbernya atau intake-nya memang terjaga,” ujar Dody.
Ia menilai perubahan morfologi sungai pascabencana menjadi tantangan serius dalam pembangunan sistem air baku di kawasan tersebut.
“Dengan kondisi sungai yang melebar biasanya debit air juga berkurang,” katanya.
Paket pembangunan SPAM ini menjadi bagian dari penanganan pascabencana di Aceh Utara, Aceh Tamiang, Aceh Tengah, dan Gayo Lues dengan nilai kontrak mencapai Rp277,97 miliar.
Pekerjaan dilaksanakan Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan Aceh di bawah Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PU bersama kontraktor PT Adhi Karya (Persero) Tbk.
Selain pembangunan IPA baja, proyek juga mencakup reservoir GFS berkapasitas 1.000 meter kubik, bangunan intake, jaringan perpipaan distribusi, hingga sistem SCADA.
Dody menyebut progres proyek masih sesuai jalur meski sejumlah penyempurnaan teknis tetap harus dilakukan, termasuk pembangunan pintu air dan penyesuaian titik terendah sungai yang kini berubah akibat bencana.
Pemerintah berharap SPAM Karang Baru nantinya mampu menjaga suplai air tetap stabil, terutama bagi layanan vital seperti rumah sakit dan sekitar 10 ribu kepala keluarga di Aceh Tamiang. (Red)







