Bandung, Kantor Berita Jabar – Euforia kemenangan PERSIB benar-benar menguasai Bandung pada Sabtu malam, 23 Mei 2026. Jalanan dipenuhi lautan biru ketika ribuan Bobotoh turun merayakan keberhasilan Maung Bandung mencetak sejarah tiga kali juara liga secara beruntun.
Konvoi berlangsung hampir di seluruh penjuru kota. Klakson kendaraan bersahutan, flare menyala, dan chant kemenangan terdengar tanpa henti dari rombongan suporter yang bergerak sejak malam hingga dini hari.
Di tengah suasana penuh selebrasi itu, muncul satu kejadian yang sempat menarik perhatian publik. Sekelompok oknum terdengar melontarkan nyanyian bernada penghinaan terhadap salah satu suporter rival PERSIB.
Alih-alih ikut terbawa suasana, banyak Bobotoh justru bereaksi berbeda. Sejumlah suporter memilih meminta nyanyian tersebut dihentikan agar perayaan tetap fokus pada keberhasilan tim.
Beberapa orang bahkan terlihat langsung menegur kelompok yang dianggap memancing provokasi. Respons spontan itu membuat situasi kembali cair dan konvoi tetap berjalan aman.
Momen tersebut ramai dibicarakan karena dianggap mencerminkan perubahan sikap sebagian Bobotoh dalam merayakan kemenangan besar. Gelar hattrick yang diraih PERSIB justru dirayakan dengan pendekatan lebih dewasa dibanding musim-musim sebelumnya.
Perayaan kemenangan sendiri membuat sejumlah ruas jalan di Bandung dipadati massa. Kawasan pusat kota menjadi titik keramaian terbesar dengan arus kendaraan bergerak perlahan akibat membludaknya konvoi.
Meski atmosfer berlangsung sangat meriah, tidak tampak ketegangan besar antarsuporter sepanjang malam. Mayoritas Bobotoh memilih menikmati momen bersejarah itu dengan bernyanyi, mengibarkan syal, dan merayakan keberhasilan klub kesayangan mereka.
Bagi banyak warga Bandung, malam itu bukan sekadar pesta juara. Ada pesan berbeda yang ikut terasa di jalanan: rivalitas tetap ada, tetapi provokasi mulai tak mendapat tempat di tengah euforia kemenangan PERSIB. (Red)







